Diskusi adalah pertukaran pengetahuan, sedangkan perdebatan adalah saling menukar kedunguan

Tentang Saya

Tempat Belanja Online

Tempat Belanja Online
Toko online biasa tapi bukan barang-barang biasa-biasa

JANGAN LUPA WAKTU

Mendiknas: Kembangkan Sekolah Adiwiyata

Selasa, 02 Februari 2010

JAKARTA--Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh meminta agar sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan melalui Program Sekolah Adiwiyata terus dikembangkan. Bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup, program yang telah berjalan sejak 2006 ini diharapkan dapat lebih ditingkatkan baik dari sisi jumlah maupun kualitasnya.

''Kami berikan penghargaan kepada sekolah-sekolah Adiwiyata. Monggo, sehingga jumlahnya bertambah besar dan kualitasnya pun juga bertambah baik,'' ujar Mendiknas usai melakukan panandatanganan Nota Kesepahaman Bersama (MoU) tentang Pendidikan Lingkungan Hidup dengan Menteri Negara Lingkungan Hidup Muhammad Hatta di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Senin (1/2).

Mendiknas mengatakan, urusan lingkungan hidup tidak cukup hanya sebagai ideologi saja. Menurut dia, yang diperlukan berikutnya adalah menerjemahkan ideologi itu dalam perilaku-perilaku praktis yang langsung dapat dirasakan manfaatnya. Salah satu kegiatan praktis yang dilakukan, kata Mendiknas, adalah penguatan institusi pusat studi lingkungan (PSL).

''Ada 32 PSL yang sekarang tersebar di berbagai universitas. Kami, kawan-kawan kementerian sudah sepakat. Jadi MoU ini tidak sekadar teken, kami sepakat untuk ikut mulai membangun ideologi sampai ke langkah-langkah praktis," jamin Mendiknas.

Salah satu agenda konkrit dari kesepakatan ini adalah Pembentukan Kelompok Kerja (POKJA) Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) yang bertugas menyusun grand design PLH, mengkoordinasikan implementasi program dan kegiatan PLH, serta memantau dan evaluasi pelaksanaan kesepakatan ini.

Mendiknas mengatakan, pendidikan lingkungan hidup akan diterapkan secara komprehensif integratif dan bukan pendekatan per mata pelajaran. Menurut dia, pendekatan yang dilakukan adalah tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan dimasukkan ke dalam subbab-subbab yang terkait.

Mendiknas mencontohkan, seseorang yang membuang sampah dapat terkait di empat bidang, yakni lingkungan hidup, etika, Matematika, dan ilmu sosial. "Pendekatan- pendekatan komperehensip intergratif itulah yang harus kita kembangkan ke depan," jelasnya. Read More...

Dewi Motik: Sebaiknya Para Ibu Kuliah di UT

TANGSEL -- Kaum ibu selama ini diharapkan menjadi salah satu pondasi bagi pendidikan anak-anak bangsa. Namun jumlah ibu yang menempuh pendidikan, terutama pendidikan tinggi, masih bisa dibilang minim.

''Oleh karena itu saya merasa harus bekerja sama dengan UT. Para ibu sebenarnya ingin melanjutkan kuliah S1 atau S2, tapi tak ada yang mengajak ke UT,'' ujar Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Dewi Motik Pramono, usai penandatanganan kerjasama dengan Universitas Terbuka (UT) untuk menunjang pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, khususnya melalui sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh di Gedung UTCC, UT Pondok Cabe, Senin (1/2).

Menurut Dewi, banyak para ibu-ibu lulusan S1 yang pintar tapi setelah menikah tak sempat melanjutkan pendidikan. ''Sewaktu muda mereka mendukung karier suami, dan setelah anak-anak mereka besar, mereka ingin kuliah lagi,'' jelasnya.

Oleh karena itu, Dewi mengatakan, ini ada kesempatan dan tidak ada alasan untuk tidak bisa. ''Karena saya bilang UT tidak ada drop-out, di mana saja, kapan saja anda mau belajar, ada kesempatan langsung belajar,'' cetusnya.

Ketua Umum Kowani ini meminta kepada para anggotanya agar tidak pernah takut dan merasa tidak mempunyai waktu untuk menuntut ilmu. ''Yang paling penting adalah kemauan karena di mana ada kemauan di situ ada jalan,'' ingat dia.

Apalagi, kata Dewi, waktu belajar di UT diserahkan sepenuhnya pada mahasiswa. ''Ini akan mendisiplinkan diri sendiri,'' tegasnya.

Lebih jauh Dewi menyatakan, untuk tahap pertama, anggota Kowani yang sudah mendaftar di UT sebanyak 230 orang, sedangkan biaya kuliah ditanggung sendiri. ''Jangan dibuat kolokan, jangan kita menyuapi orang. Orang itu harus mandiri. Dengan biaya hanya Rp.20.000/SKS masak tak bisa,'' katanya. ''Untuk beli lipstick saja bisa masak untuk bayar kuliah yang hanya Rp.20.000/SKS tak bisa.''

Read More...

Turki Berikan 50 Bea Siswa Untuk Pelajar Indonesia

Pemerintah Turki menyediakan 50 paket beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk periode 2010-2011. Menurut keterangan dari Kedutaan Besar Turki di Indonesia, jumlah paket beasiswa yang diberikan itu meningkat sepuluh kali lipat dibanding lima tahun lalu, periode 2004-2005.

Pemberian paket beasiswa itu terbagi dalam tiga program yaitu paket kursus bahasa Turki untuk 10 orang, program sarjana S1 untuk 30 orang dan program master/doktor untuk 10 orang. Indonesia merupakan negara keenam yang paling banyak menerima beasiswa dari 120 negara penerima beasiswa Turki.

Hubungan antara Republik Turki dan Indonesia berkembang pesat dalam berbagai bidang selama beberapa tahun terakhir, mulai dari politik, ekonomi hingga kebudayaan dan pendidikan.
Di bidang pendidikan hubungan kedua negara makin meningkat menyusul penandatanganan nota kesepahaman antara Turki dan Indonesia pada saat Menteri Pendidikan Turki Huseyin Celik berkunjung ke Indonesia, 21-25 Januari 2009.

Sebagai salah satu bukti eratnya hubungan kedua negara di bidang pendidikan adalah Turki meningkatkan jumlah pemberian beasiswa untuk pelajar dan mahasiswa di Indonesia. Aplikasi beasiswa dapat diambil dan diajukan melalui Kedutaan Besar Turki di Jakarta. Batas waktu pengajuan adalah 28 Mei 2010. Read More...

Riset: Video Game Meningkatkan Ketajaman dan Akurasi Berpikir Anak


Sejauh ini keberadaan video game lebih banyak berkesan negatif sebagian besar orang tua. Pasalnya, rata-rata orang tua berkeyakinan video game merupakan faktor dibalik persoalan kekerasan dan obesitas yang mendera anak-anak.

Akan tetapi, fakta itu tidaklah sepenuhnya benar. Sebuah riset yang diterbitkan journal Perception baru-baru ini menyimpulkan, video games yang selama ini menjadi kambing hitam atas "ketidakberesan" pada anak-anak ternyata mampu meningkatkan ketajaman dan akurasi berpikir mereka.

Game bertema petualangan misalnya, peneliti berkeyakinan bahwa anak-anak yang mengemari game bertema itu memiliki efek positif berupa peningkatan kecepatan berpikir si anak. Sedangkan, anak-anak yang menggemari game bertema teka-teki memiliki efek positif berupa peningkatan akurasi berpikir mereka.

Riset yang dipimpin oleh Rolf Nelson, Profesor asal Wheaton College ini Norton, Massachusset, AS, mendapati kesimpulan itu usai menjalani riset yang melibatkan 20 anak-anak, yang diberikan tugas bermain game bertemakan petualangan atau game bertema teka-teki selama satu jam.

"Bermain game membutuhkan kecepatan fokus perhatian dan pergerakan motorik sehingga mampu menghasilkan strategi prima yang akurat," terang Nelson seperti dilansir Healthday, Senin (27/12).

"Sementara itu efek yang berbeda akan tampak tergantung dari jenis game yang dimainkan. Intinya, perbedaan jenis game yang dimainkan akan berpengaruh terhadap kemampuan berpikir dan tentu saja ada efek berbeda," tuturnya.

Hasil yang sama juga tercatat pada riset sebelumnya yang dikerjakan Dapne Bavelier, peneliti asal University of Rochester, New York. Dalam riset itu, Dapne menyimpulkan, anak-anak yang bermain video game akan meningkatkan kemampuan kordinasi antara tangan dan mata, meningkatkan kemampuan visual, meningkatkan kemampuan mental dan meningkatkan kemampuan bagian otak yang berhubungan dengan visual.

Meski memiliki dampak positif bagi kemampuan berpikir anak, para peneliti rupanya tidak mau gegabah merekomendasikan video game menjadi bagian dari sistem pembelajaran anak. Terkait hal itu, Nelson berpendapat, peneliti masih membutuhkan waktu yang panjang guna mendapatkan rekomendasi tersebut.

"Satu hal yang membuat keinginan itu sulit tercapai yakni kebanyakan pengembang video game rata-rata masih berorientasi industri hiburan dan tujuan dari pengembang video game adalah menciptakan perhatian selama mungkin tanpa berpikir dampak negatif yang terjadi. Sebab itu, tidaklah mudah untuk memperkirakan jenis efek apa yang diberikan dari setiap jenis video game," tegasnya.

Sementara itu, Peneliti asal Beckman Institute, University Illinois, Candramallika Basak menilai keberadaan video game disatu sisi butuh pengembangan dan melintasi keinginan untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak guna menunjang pertumbuhannya. Sebabnya, Basak menyarankan kepada setiap orang tua untuk memilihkan permainan yang tepat bagi keperluan pengembangan kemampuan.

"Mungkin saja video game mendapatkan tempat guna menjadi medium pengembangan kemampuan anak tapi tidak bisa menggantikan posisi latihan secara fisik dan interaksi sosial sebagai bagian dari pengembangan anak," tukasnya.

Basak menilai, video game sebaiknya diletakkan pada posisi pelengkap pendidikan bukan sebagai program yang berdiri sendiri."Pelatihan yang bagus tentu berkaitan erat dengan pelatihan secara fisik, pelatihan berpikir dan interaksi sosial. Bila ketiganya digabungkan tentu menyenangkan," ujarnya.

Ditambahkan Nelson, apa yang telah dilakukan pengembang video game sebenarnya sudah tepat. Hanya saja, pengembang game tidak serta merta melihat video game sebagai bagian dari usaha meningkatkan pembelajaran si anak tapi lebih kepada perkembangan bisnis belaka. Read More...

Penelitian: Kegemukan 'Untungkan' Lansia


Satu penelitian Australia menemukan bahwa kaum lanjut usia yang agak gemuk kemungkinan bisa berusia lebih panjang daripada mereka yang berberat badan normal. Tetapi terlalu gemuk atau terlalu kurus akan memperpendek usia. Laporan yang dipublikasikan dalam Journal of the American Geriatric Society ini mengatakan, diet mungkin tidak akan menguntungkan untuk kelompok umur lansia.

Satu penelitian terhadap 9.200 orang berusia diatas 70 tahun menemukan bahwa terlepas dari faktor berat badan, gaya hidup yang tidak aktif memperpendek usia khususnya di kalangan wanita.

Penelitian yang dilakukan oleh University of Western Australia ini dilakukan untuk menemukan apakah indeks masa tubuh atau BMI terkait dengan resiko terendah kematian di kalangan lanjut usia. Bagi generasi yang lebih muda, risiko kesehatan dari kegemukan atau kelebihan berat badan sudah sangat jelas terbukti.
Kegemukan bagus

Tim peneliti ini menelusuri kembali sejumlah kematian selama 10 tahun terakhir diantara para relawan yang berusia antara 70 hingga 75 tahun, pada awal penelitian.Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa mereka yang tergolong gemuk berdasarkan indeks masa tubuh atau BMI dengan resiko kematian yang rendah secara keseluruhan, ternyata juga memiliki resiko terendah untuk meninggal dunia akibat penyakit khusus seperti penyakit jantung, kanker dan pernafasan kronis. Tetapi mereka yang sangat gemuk berisiko lebih besar meninggal dunia dalam periode 10 tahun.

Peneliti utama, Professor Leon Flicker mengatakan: "Ada kekhawatiran yang semakin tinggi terhadap berbagai anjuran agar kaum lanjut usia yang gemuk menguruskan diri. "Penelitian kami mengisyaratkan bahwa orang-orang yang bisa mencapai usia 70 tahun dalam keadaan cukup sehat memiliki beberapa resiko dan keuntungan yang berkaitan dengan jumlah lemak dalam tubuh mereka dibandingkan dengan kaum muda.

"Kesimpulan penelitian bahwa kegemukan mungkin tidak terlalu bahaya bagi kalangan lanjut usia menguatkan temuan hasil riset sebelumnya.

Tidak Aktif
Gaya hidup yang kurang aktif memperpendek usia untuk semua golongan umur. Risiko kematian kaum wanita yang kurang aktif dalam periode yang diteliti naik dua kali lipat, sementara resiko diantara kalangan pria naik 25 persen.

Menurut Professor Flicker olahraga sangat penting. Selain membantu membangun otot, gerak badan juga menguntungkan kesehatan kalangan lansia secara lebih luas.

Penulis hasil penelitian ini percaya BMI mungkin tidak bisa sepenuhnya menjelaskan jumlah lemak ditubuh orang orang berusia lanjut. "Mungkin sudah saatnya mengevaluasi kembali klasifikasi BMI untuk orang-orang dewasa lanjut usia," kata Professor Flicker. Read More...

Stieg Larsson, Terkenal Setelah Meninggal Dunia

Senin, 01 Februari 2010
Tahun 2010 seharusnya merupakan tahun penting bagi penulis Swedia Stieg Larsson. Buku trilogi Millennium karyanya terjual 25 juta eksemplar dan dia dinobatkan menjadi penulis terlaris Eropa. Sementara film yang diangkat dari novel triloginya itu akan dirilis di Amerika dan Inggris.

Tetapi, Stieg Larsson meninggal dunia secara tiba-tiba pada tahun 2004, sebelum buku pertama dari trilogi Millennium tersebut diterbitkan. Jadi kematiannya ini mungkin menjadi penyebab kenapa sekarang tiba-tiba banyak kontroversi mengenai kisah hidupnya. Buku-buku penulis Swedia ini menjadi sensasi di dunia penerbitan.

Buku trilogi The Girl With the Dragon Tattoo, The Girl Who Played With Fire dan The Girl Who Kicked the Hornets' Nest mengisahkan Mikael Blomkvist, seorang wartawan investigatif, dan Lisbeth Salander, seorang detektif swasta perempuan eksentrik. Para penggemar Larsson mungkin mengetahui sedikit mengenai latar belakangnya.

Rebutan Warisan
Mendiang Larsson adalah seorang wartawan sayap kiri yang memulai karirnya sebagai perancang grafis di satu kantor berita Swedia dan kemudian menjadi seorang penyelidik terkemuka gerakan-gerakan politik ekstrem kanan. Di waktu luangnya - dan pada malam hari ketika dia tidak bisa tidur - dia menulis novel.

Tahun 2004 seorang penerbit Swedia tertarik untuk membaca hasil karyanya, dan Larsson langsung menyerahkan dua manuskrip sebelum menyelesaikan jilid terakhir dari triloginya pada pertengahan tahun itu. Larsson meninggal karena serangan jantung beberapa bulan kemudian pada usia 50 tahun.

Ketika diterbitkan setahun kemudian, buku-bukunya langsung menjadi buku terlaris di Swedia dan diterjemahkan di negara-negara lain sehingga menghasilkan uang jutaan dolar bagi ahli waris Larsson. Pembagian harta Larsson menjadi berita utama di berbagai surat kabar karena pasangan hidup Larsson selama 30 tahun, Eva Gabrielsson, yang tidak pernah dinikahinya tidak mendapat warisan sama sekali karena tidak ada surat wasiat.

Ayah dan saudara laki-laki Larsson dinyatakan sebagai ahli waris yang sah. Selain pertikaian mengenai harta warisannya, ada juga pertikaian mengenai pribadi Larsson sendiri dengan penerbitan dua buku biografi Larsson tahun ini. Mungkin kedua buku biografi tidak resmi ini diterbitkan bersamaan dengan sebuah film adaptasi triloginya yang akan dirilis di Inggris dan Amerika pada bulan Maret.

Bakat Diragukan
Kurdo Baksi yang pernah menjadi kolega Larsson ketika dia bekerja untuk sebuah majalah antifasis, Expo, dan mengenalnya sejak tahun 1992, baru saja menerbitkan buku berjudul Kawanku Stieg Larsson.

Tuduhan Baksi bahwa Larsson bukan wartawan yang baik menjadi kontroversi di Swedia. "Banyak orang sangat marah," kata Baksi. "Dia dianggap seperti tuhan di Swedia".

Tetapi kontroversi buku Baksi mungkin akan segera tertelan oleh tuduhan baru dari seorang bekas kolega Larsson yang lain. Anders Hellberg yakin Larsson tidak mungkin menulis prosa dalam buku-buku trilogi Millennium.

Hellberg pernah bekerja dengan Larsson untuk kantor berita TT di akhir tahun 1970-an dan 1980-an ketika Larsson bekerja sebagai perancang grafis. Dia bertugas menyunting kata-kata yang ditulis Larsson untuk berbagai karya grafis dan Hellberg mengatakan Larsson bukan penulis yang baik.

"Tulisannya bukan tulisan profesional. Semuanya salah, urutan kata, sintaks - bahasanya pun tidak profesional," kata Hellberg. "Menulis buku merupakan bakat. Seseorang bisa belajar menulis tetapi hanya sampai batas tertentu. Menurut saya Stieg tidak mungkin menulis novel-novel itu."

Hellberg menyatakan dia tidak tahu siapa yang mungkin menulis novel-novel itu bagi Stieg Larsson. Tetapi dia mengatakan bukan tidak mungkin pasangan hidup Larsson, Eva Gabrielsson yang berprofesi sebagai arsitek, memainkan peran sangat penting.

"Eva pernah menulis banyak paper. Dia adalah seorang penulis berbakat, itu yang saya dengar," tambah Hellberg. Namun dia menambahkan, dirinya tidak memiliki bukti Gabrielsson adalah penulis novel-novel itu.

Daya Tarik Buku Larsson
Dugaan bahwa Larsson tidak bisa menulis sehingga tidak mungkin dia menulis novel trilogi itu ditepis oleh orang-orang yang kenal dengannya, seperti Anna-Lena Lodenius, yang pernah menulis buku menganai neo-Nazi bersama Larsson di awal tahun 1990-an.

"Ketika kami mulai bekerja sama memang dia awalnya tidak bagus. Tetapi itu sudah lama sekali," kata Lodenius. "Bila anda membaca buku-bukunya anda bisa mendengar suaranya. Rasanya seperti dia berada di sebelah anda. Itu memang kata-katanya, memang gaya bahasa dia. Saya bisa mendengarnya."

Terlepas dari kontroversi mengenai sosok Larsson, penerjemah trilogi Millennium ke dalam bahasa Inggris, Steven Murray beranggapan, daya tarik novel-novel itu adalah pesan politis dan moral trilogi itu.

Buku-buku Millennium juga menyentuh topik korupsi di dunia konglomerat, kelemahan wartawan, warisan ideologi Nazi dan kekerasan terhadap perempuan, topik-topik yang menurut Murray menarik bagi para pembaca.

Jadi tanpa kematiannya yang tiba tiba pun pada tahun 2004, kisah hidup Stieg Larsson tetap menarik. Seorang laki-laki yang mendekati usia paruh baya yang belum pernah menulis fiksi tiba-tiba menghasilkan novel trilogi, tetapi meninggal dunia sebelum namanya menjadi tenar. Read More...
Related Posts with Thumbnails
banner125125 d'famous_125x125
 

Followers